Kesenjangan mutu SPPG kini menjadi persoalan yang semakin sulit diabaikan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis. Sejak awal, program ini membawa semangat pemerataan. Namun, di lapangan, kualitas layanan tidak selalu bergerak seiring. Sebagian SPPG mampu bekerja rapi dan konsisten, sementara sebagian lain masih tertatih sejak tahap dasar. Akibatnya, tujuan besar program sering tersendat oleh realitas yang timpang.
Masalah ini tidak muncul secara tiba-tiba. Sebaliknya, ia tumbuh dari perbedaan kapasitas, kesiapan, dan manajemen. Ketika satu SPPG melaju dengan sistem yang mapan, SPPG lain masih berkutat dengan persoalan teknis. Karena itu, kesenjangan ini tidak hanya soal hasil, tetapi juga soal fondasi yang tidak setara.
Mengapa Kesenjangan Mutu Menjadi Masalah Serius?
Pertama, kita perlu memahami bahwa SPPG memegang peran penting dalam rantai layanan MBG. Jika mutunya timpang, maka kualitas layanan yang diterima penerima manfaat juga ikut timpang. Selain itu, ketimpangan ini berisiko menciptakan persepsi ketidakadilan.
Beberapa alasan mengapa kesenjangan mutu SPPG berbahaya antara lain:
- Menciptakan standar ganda. Satu wilayah mendapat layanan baik, wilayah lain tertinggal.
- Menurunkan kepercayaan publik. Masyarakat menilai program dari pengalaman terdekat mereka.
- Mengganggu stabilitas operasional. Ketika satu titik lemah, sistem ikut menyesuaikan ke bawah.
- Memperbesar biaya koreksi. Semakin lama dibiarkan, semakin berat beban pembenahan.
Dengan kata lain, kesenjangan mutu bukan sekadar masalah teknis, tetapi masalah strategis.
Akar Masalah di Balik Perbedaan Kualitas
Selanjutnya, kita perlu melihat penyebabnya secara jujur. Kesenjangan ini tidak lahir dari satu faktor tunggal. Sebaliknya, ia muncul dari kombinasi banyak hal yang saling berkaitan.
Beberapa akar masalah yang sering muncul antara lain:
- Perbedaan kapasitas infrastruktur. Tidak semua SPPG memulai dari titik yang sama.
- Kualitas manajemen yang tidak merata. Ada yang siap dengan sistem, ada yang masih belajar sambil jalan.
- Ketersediaan sumber daya manusia. Tim yang solid bekerja lebih stabil daripada tim yang terus berganti.
- Pengawasan yang belum konsisten. Tanpa kontrol rutin, standar mudah melonggar.
Selain itu, kesiapan infrastruktur pendukung juga belum merata, karena tidak semua SPPG terhubung dengan pusat alat dapur MBG yang mampu menjamin standar peralatan dan kapasitas produksi secara konsisten.
Dampak Langsung terhadap Kualitas Layanan
Kesenjangan mutu SPPG cepat atau lambat akan terlihat di meja penerima manfaat. Ketika satu dapur mampu menjaga kualitas menu dan distribusi, dapur lain mungkin masih berjuang menjaga konsistensi. Akibatnya, pengalaman penerima manfaat menjadi sangat bergantung pada lokasi, bukan pada standar nasional.
Lebih jauh lagi, kondisi ini menciptakan dua masalah sekaligus. Di satu sisi, SPPG yang sudah baik merasa terbebani oleh standar rata-rata yang ditarik ke bawah. Di sisi lain, SPPG yang tertinggal justru semakin sulit mengejar ketertinggalan karena tekanan operasional harian.
Peran Standarisasi dan Pendampingan
Untuk mengatasi masalah ini, pendekatan yang setengah-setengah tidak akan cukup. Program sebesar MBG membutuhkan standarisasi yang jelas sekaligus pendampingan yang nyata.
Beberapa langkah yang bisa ditempuh antara lain:
- Menetapkan indikator mutu yang sederhana dan tegas.
- Membuat sistem audit rutin yang fokus pada perbaikan, bukan sekadar penilaian.
- Menyediakan pendampingan teknis untuk SPPG yang tertinggal.
- Mendorong pertukaran praktik baik antar-SPPG.
Dengan cara ini, sistem tidak hanya menuntut, tetapi juga membantu.
Risiko Jika Kesenjangan Terus Dibiarkan
Jika kesenjangan mutu SPPG terus berlanjut, dampaknya tidak akan berhenti di tingkat teknis. Perlahan, masalah ini akan berubah menjadi masalah kepercayaan dan legitimasi. Publik tidak lagi menilai niat baik program, tetapi menilai hasil nyata yang mereka rasakan. Pengelola pusat harus terus memadamkan masalah di titik-titik yang sama, sementara energi untuk pengembangan justru terkuras.
Kesimpulan
Kesenjangan mutu SPPG bukan takdir yang tidak bisa diubah. Selama pengelola mau mengakui masalahnya, memetakan dengan jujur, dan bertindak konsisten, jarak kualitas ini bisa dipersempit. Program besar tidak membutuhkan kesempurnaan serentak, tetapi membutuhkan arah perbaikan yang jelas dan berkelanjutan. Dari situlah kekuatan sistem akan tumbuh, bukan dari klaim, melainkan dari mutu yang semakin merata.
