Tim quality assurance mengembangkan dan menerapkan sistem kendali mutu makanan yang komprehensif untuk mendukung program MBG. Mereka memulai quality control sejak tahap seleksi supplier dan melanjutkannya hingga produk diterima oleh konsumen. Dengan menerapkan inspeksi berlapis secara konsisten, tim memastikan siswa hanya mengonsumsi produk yang memenuhi standar kualitas.
Tim juga mendokumentasikan setiap tahapan proses secara sistematis untuk mendukung traceability apabila terjadi permasalahan. Selain itu, mereka menjalankan corrective action system secara aktif agar setiap penyimpangan dapat segera diperbaiki. Melalui pendekatan ini, sistem kendali mutu secara efektif melindungi reputasi program sekaligus menjaga kesehatan anak.
Quality Control pada Bahan Baku
Inspeksi incoming material menjadi garda pertama dalam sistem kendali mutu. Pertama, tim QC memeriksa sertifikat analisis dan dokumen supplier untuk verifikasi kualitas. Kemudian, sensory evaluation menilai warna, aroma, tekstur bahan sesuai acceptance criteria.
Temperature check memastikan bahan datang dalam kondisi suhu yang aman dan sesuai. Selanjutnya, random sampling untuk lab testing mikrobiologi dilakukan pada high-risk items. Alhasil, reject rate bahan yang tidak memenuhi standar mencapai 98% detection sebelum masuk produksi.
Monitoring Critical Control Points Produksi
HACCP system mengidentifikasi 7-10 critical control points yang harus dimonitor ketat. Pada dasarnya, cooking temperature menjadi CCP utama untuk memastikan pathogens terbunuh. Misalnya, internal temperature daging harus mencapai minimal 75°C dan dihold 30 detik.
Time-temperature abuse monitoring mencegah pertumbuhan bakteri pada danger zone 5-60°C. Lebih lanjut, cross-contamination prevention melalui segregasi equipment dan surface untuk raw dan cooked. Oleh karena itu, control pada critical points ini menjamin food safety absolut.
Inspeksi Final Product dan Sensory Evaluation
Final inspection mengevaluasi produk jadi berdasarkan checklist appearance, portion, dan temperature. Pertama, visual inspection memastikan tidak ada foreign material atau defect pada produk. Kemudian, portion accuracy diverifikasi menggunakan timbangan kalibrasi untuk consistency.
Sensory panel yang trained melakukan tasting untuk evaluate flavor, texture, dan overall acceptability. Di samping itu, temperature spot check memastikan hot food minimal 65°C dan cold food maksimal 8°C. Akibatnya, triple inspection ini menjamin zero defect product delivery ke sekolah.
Poin-Poin Sistem Kendali Mutu Makanan
- SOP documentation: Buat prosedur tertulis detail untuk setiap quality check point
- Equipment calibration: Kalibrasi thermometer, timbangan, pH meter setiap 6 bulan
- Lab partnership: Jalin kerja sama dengan lab tersertifikat untuk periodic testing
- Complaint handling: Sistem response cepat untuk keluhan dengan root cause analysis
- Audit internal: Lakukan self-audit mingguan menggunakan standar checklist
- Training berkelanjutan: Program pelatihan QC untuk seluruh staff produksi
- Corrective action log: Dokumentasi setiap deviation dan tindakan perbaikan
Kesimpulan
Pada akhirnya, sistem kendali mutu makanan yang ketat menjadi jaminan program MBG dalam menyediakan pangan aman dan berkualitas secara konsisten, terukur, terverifikasi, adaptif terhadap risiko, serta selaras dengan standar nasional dan internasional yang terintegrasi dalam tata kelola operasional berkelanjutan nasional. Quality control berlapis dari bahan baku, monitoring critical points, hingga inspeksi final menciptakan defense system yang solid. Dengan mengimplementasikan quality assurance yang comprehensive, program MBG dapat mempertahankan zero incident foodborne illness sambil membangun trust masyarakat terhadap komitmen pemerintah pada kesehatan anak Indonesia.
